Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tuntutan, banyak orang merasa semakin sadar akan realitas hidup—namun justru semakin menderita. Video dari kanal Ardhianzy berjudul “Kenapa Semakin Kita Sadar, Semakin Kita Justru Menderita?” mengangkat pemikiran filsuf Norwegia Peter Wessel Zapffe, yang menyatakan bahwa kesadaran manusia adalah sumber penderitaan terdalam.
Siapa Zapffe dan Apa Itu “The Last Messiah”?
Zapffe adalah seorang filsuf eksistensialis yang menulis esai berjudul The Last Messiah. Dalam esai ini, ia menyampaikan gagasan bahwa kesadaran manusia terlalu besar untuk ditanggung oleh alam. Kita menyadari kematian, absurditas hidup, dan kehampaan eksistensial—sesuatu yang tidak dialami oleh makhluk lain.
Menurut Zapffe, manusia adalah satu-satunya spesies yang sadar akan ketidakbermaknaan hidupnya, dan karena itu, menderita secara unik.
Empat Mekanisme Pertahanan Manusia
Untuk mengatasi penderitaan akibat kesadaran, manusia menciptakan empat mekanisme pertahanan:
- Isolation (Isolasi) Menyingkirkan pikiran-pikiran menyakitkan dari kesadaran. Contohnya: tidak memikirkan kematian, menghindari pertanyaan eksistensial.
- Anchoring (Penjangkaran) Menambatkan diri pada nilai, agama, budaya, atau rutinitas agar hidup terasa bermakna.
- Distraction (Pengalihan) Mengisi hidup dengan hiburan, pekerjaan, atau aktivitas agar tidak sempat berpikir tentang absurditas hidup.
- Sublimation (Sublimasi) Mengubah penderitaan menjadi ekspresi kreatif seperti seni, sastra, atau filsafat.
Zapffe menyatakan bahwa semua ini adalah bentuk “penipuan diri” yang diperlukan agar manusia bisa bertahan hidup.
The Last Messiah: Sosok yang Menolak Ilusi
Dalam esai tersebut, Zapffe membayangkan sosok “Mesias Terakhir”—seorang manusia yang sadar sepenuhnya akan absurditas hidup dan menolak semua mekanisme pertahanan. Ia tidak mencari hiburan, tidak beragama, tidak bekerja demi rutinitas, dan tidak menciptakan seni untuk pelarian.
Mesias ini memilih untuk tidak melanjutkan spesies manusia, karena menyadari bahwa melahirkan anak berarti mewariskan penderitaan eksistensial.
Apakah Kesadaran Selalu Buruk?
Video ini tidak hanya menyampaikan pesimisme Zapffe, tetapi juga mengajak kita untuk merenung secara jujur. Kesadaran memang menyakitkan, tetapi juga membuka ruang untuk refleksi, kebijaksanaan, dan empati.
Kita bisa memilih untuk tidak lari dari kenyataan, tetapi menghadapinya dengan keberanian dan kejujuran.
Kesimpulan
Zapffe mengingatkan kita bahwa kesadaran adalah pedang bermata dua. Ia bisa menjadi sumber penderitaan, tetapi juga sumber makna jika kita mampu mengelolanya dengan bijak.
Daripada menolak kesadaran, kita bisa belajar untuk hidup berdampingan dengannya—dengan refleksi, kreativitas, dan keberanian eksistensial.







